Jumat, 02 Oktober 2015

RESENSI BUKU
KERUNTUHAN JURNALISME 
from-anggeutomo.blogspot.com


A.       Identitas
Judul                  : Keruntuhnya Jurnalisme
Pengarang          : Dudi Sabil Iskandar
Penerbit             : Lentera Ilmu Cendekia (LIC)
Cetakan             : Pertama
Cover                : Soft cover
Tebal                 : 168 halaman
Terbit                : Januari, 2015
ISBN                 : 978-602-8969-87-1
Harga                : Rp 50.000,-

B.        Pratinjau
            Buku ini bisa dikatakan buku yang bagus hasil karya Dudi Sabil Iskandar, seorang dosen di Universitas Budi Luhur. Beliau mendapat predikat cum laude di Institud Agama Islam Negeri Sunan Gunung Djati, dan memyelesaikan pendidikan magister di Universitas Mercu Buana. Secara garis besar buku ini menceritakan tentang jurnalisme---atau lebih tepatnya kegundahan pengarang terhadap jurmanilsme di Indonesia, dan apa-apa saja yang terjadi dalam dunia jurnalisme di Indonesia. Di setiap bab dalam buku ini pengarang menceritakan kendala-kendala yang terjadi di dunia jurnalisme saat ini, seperti Kewajiban utama jurnalisme adalah lencarian kebenaran vs. Kewajiban utama adalah pencarian kemenangan; Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga vs. Loyalitas utama jurnalisme kepada warga yang sanggup membayar; Disiplin dalam melakukan verifikasi fakta vs. Disiplin dalam memperkosa fakta; Jurnalisme harus menjaga indepedensi dari objek liputan vs. Jurnalisme harus bergantung kepada pemilik modal dan pengiklan; Memantau kekuasaan dan menyambung lidaj yang tertindas vs. Mencari fan terlibat memerebutkan kekuasaan; dan lain-lain.

C.       Kelebihan dan Kekurangan

1.) Kelebihan
            Di lihat dari unsur intrinsiknya, buku ini adalah buku yang sangat menarik dan dapat "dikonsumsi" oleh khalayak umum, dalam arti bisa menjadi konsumsi untuk orang-orang yang di luar dunia seputar jurnalisme. Hal tersebut dapat dilihat dari penyampaian pemikiran dan gaya bahasa yang digunakan. Pengarang menggunakan kata-kata yang familiar, mudah dimengerti, tidak berputar-putar, dan to the point. Bahasa yang digunakan dalam buku ini juga menarik, sedikit nyeleneh sehingga tidak membuat bosan. Biasanya pengarang-pengarang buku akan memilih menggunakan bahasa yang baku, namun pengarang dalam buku ini tidak segan-segan menggunakan kata-kata yang "pedas". Dapat dilihat dari gaya bahasa yang digunakan pengarang dalam salah satu judul bab "Sembilan Prinsip Jurnalisme Bill Kovach dan Tom Rosentiels vs. Sembilan Prinsip Jurnalisme Bill Koplak dan Top Sentimentil", serta beberapa pelesetan singkatan seperti sekwilda menjadi "sekitar wilayah dada" dan bupati "buka paha tinggi-tinggi" sehingga membuat pembaca tidak jenuh.
2.) Kekurangan
            Secara garis besar memang buku ini ditulis menggunakan bahasa yang mudah dicerna, namun karena penulis sering menggunakan Bahasa Inggris yang tidak diterjemahkan, membuat pembaca yang tidak mengerti Bahasa Inggris tidak dapat memahami maksud penulis. Selain itu, banyak terjadi typo, yaitu kesalahan dalam penulisan suatu kata. Seperti pada halaman X yang seharusnya "jurnalisme menjadi "jujrnalisme, dan  pada halaman XII  kesalahan cetak sehingga kata "atau" dan "eman-eman" tergabung, dan masih ada banyak lagi. Memang untuk pembaca yang tidak jeli akan tidak menyadari kesalahan itu, namu bagi yang menyadarinya akan sedikit mengganggu kegiatan membacanya. Kemudian dari opini saya sendiri, harga Rp 50.000,- terbilang cukup mahal untuk buku yang terbilang cukup tipis

D.       Kesimpulan
            Buku ini akan menjadi bacaan yang menambah wawasan sekaligus tidak membosankan, sangat menarik terutama untuk pembaca yang melek media.


E.    from-anggeutomo.blogspot.com