RESENSI BUKU
KERUNTUHAN JURNALISME
| from-anggeutomo.blogspot.com |
A.
Identitas
Judul :
Keruntuhnya Jurnalisme
Pengarang :
Dudi Sabil Iskandar
Penerbit :
Lentera Ilmu Cendekia (LIC)
Cetakan :
Pertama
Cover :
Soft cover
Tebal :
168 halaman
Terbit :
Januari, 2015
ISBN :
978-602-8969-87-1
Harga :
Rp 50.000,-
B.
Pratinjau
Buku
ini bisa dikatakan buku yang bagus hasil karya Dudi Sabil Iskandar, seorang
dosen di Universitas Budi Luhur. Beliau mendapat predikat cum laude di Institud Agama Islam Negeri Sunan Gunung Djati, dan
memyelesaikan pendidikan magister di Universitas Mercu Buana. Secara garis
besar buku ini menceritakan tentang jurnalisme---atau lebih tepatnya kegundahan
pengarang terhadap jurmanilsme di Indonesia, dan apa-apa saja yang terjadi
dalam dunia jurnalisme di Indonesia. Di setiap bab dalam buku ini pengarang menceritakan
kendala-kendala yang terjadi di dunia jurnalisme saat ini, seperti Kewajiban
utama jurnalisme adalah lencarian kebenaran vs. Kewajiban utama adalah
pencarian kemenangan; Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga vs.
Loyalitas utama jurnalisme kepada warga yang sanggup membayar; Disiplin dalam
melakukan verifikasi fakta vs. Disiplin dalam memperkosa fakta; Jurnalisme
harus menjaga indepedensi dari objek liputan vs. Jurnalisme harus bergantung
kepada pemilik modal dan pengiklan; Memantau kekuasaan dan menyambung lidaj
yang tertindas vs. Mencari fan terlibat memerebutkan kekuasaan; dan lain-lain.
C.
Kelebihan dan Kekurangan
1.) Kelebihan
Di
lihat dari unsur intrinsiknya, buku ini adalah buku yang sangat menarik dan
dapat "dikonsumsi" oleh khalayak umum, dalam arti bisa menjadi
konsumsi untuk orang-orang yang di luar dunia seputar jurnalisme. Hal tersebut
dapat dilihat dari penyampaian pemikiran dan gaya bahasa yang digunakan.
Pengarang menggunakan kata-kata yang familiar,
mudah dimengerti, tidak berputar-putar, dan to
the point. Bahasa yang digunakan dalam buku ini juga menarik, sedikit nyeleneh sehingga tidak membuat bosan.
Biasanya pengarang-pengarang buku akan memilih menggunakan bahasa yang baku,
namun pengarang dalam buku ini tidak segan-segan menggunakan kata-kata yang
"pedas". Dapat dilihat dari gaya bahasa yang digunakan pengarang
dalam salah satu judul bab "Sembilan Prinsip Jurnalisme Bill Kovach dan
Tom Rosentiels vs. Sembilan Prinsip Jurnalisme Bill Koplak dan Top Sentimentil",
serta beberapa pelesetan singkatan seperti sekwilda menjadi "sekitar
wilayah dada" dan bupati "buka paha tinggi-tinggi" sehingga
membuat pembaca tidak jenuh.
2.) Kekurangan
Secara
garis besar memang buku ini ditulis menggunakan bahasa yang mudah dicerna,
namun karena penulis sering menggunakan Bahasa Inggris yang tidak
diterjemahkan, membuat pembaca yang tidak mengerti Bahasa Inggris tidak dapat
memahami maksud penulis. Selain itu, banyak terjadi typo, yaitu kesalahan dalam penulisan suatu kata. Seperti pada
halaman X yang seharusnya "jurnalisme menjadi "jujrnalisme, dan pada halaman XII kesalahan cetak sehingga kata
"atau" dan "eman-eman" tergabung, dan masih ada banyak
lagi. Memang untuk pembaca yang tidak jeli akan tidak menyadari kesalahan itu,
namu bagi yang menyadarinya akan sedikit mengganggu kegiatan membacanya.
Kemudian dari opini saya sendiri, harga Rp 50.000,- terbilang cukup mahal untuk
buku yang terbilang cukup tipis
D.
Kesimpulan
Buku
ini akan menjadi bacaan yang menambah wawasan sekaligus tidak membosankan,
sangat menarik terutama untuk pembaca yang melek media.
E. from-anggeutomo.blogspot.com



